Jangan terlalu cepat untuk membenci suatu pekerjaan karena kau belum mencoba atau melaluinya, sama seperti aku yang dulu membenci tanpa alasan menjadi seorang Jurnalis. Tak tahu mengapa, sampai aku menghindari mata kuliah yang berhubungan dengan Jurnalistik karena memang tak mau jadi Jurnalis. Sampai pada akhirnya aku menemukan apa yang aku suka, yang sebenarnya belum aku temukan dari dulu. Sekedar informasi saja aku baru menemukan atau menyadarinya satu minggu belakang ini karena menonton ulang AADC2.

Aku suka menulis hanya suka bukan bisa karena aku sendiri terkadang tak pede dengan tulisan ku diblog, ya walaupun didalam otak selalu merangkai kata tanpa disuruh bahkan sewaktu duduk di bangku sekolah dasar pernah menulis cerpen untuk majalah anak Bobo. Ya, itu cuma sekedar kompetisi waktu itu. Sempat beberapa kali ikut dan tak pernah menang, ya mungkin bukan rejeki atau juga karma karena selalu membaca majalah Bobo dari belakang tak pernah dari depan dimana bagian depan adalah cerita dari Bobonya sendiri. Namun kegiatan itu terhenti sampai berakhirnya langganan majalah Bobo setiap minggu karena merasa sok sudah besar kelas 6 SD dan juga karena ada bimbingan sebelum ujian nasional pada saat itu.

Sampailah pada saat Minggu kemarin waktu menonton ulang film aadc 2 mulai tersadar yang aku suka adalah puisi, cerita atau apapun itu yang berhubungan dengan ‘berkata-kata” ya walaupun aku jarang sekali membaca buku puisi bahkan mendengarkannya. Terakhir mendengarkannya dulu waktu masa sekolah dasar, dirumah sering diputarkan kaset alm WS Rendra yang aku ingat sampai hari ini hanya lagu Paman Doblang dalam album Kantata Takwa, mungkin ini yang menjadikan aku suka dengan “kata-kata” seperti pada lirik lagunya. “Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata” sudah lebih 15 tahun mungkin aku tak pernah lupa dengan lirik ini.

Jujur saja aku hanya sekali membaca buku tentang puisi yaitu buku Chairil Anwar yang ada di era AADC1 dulu dan itu pun tak selesai aku baca bahkan menonton pertunjukan puisinya saja dulu juga enggan. Lalu sampai disadarkan oleh seorang Aan Mansyur yang seolah mengetuk hati menyadarkan apa yang aku suka. Menyesal rasanya kenapa tak mengeluti dunia sastra mulai dari waktu jaman sekolah menengah dulu, masa sekolah menengah selalu saja game yang dimainkan tanpa henti dan terkadang tak mau pulang. Sungguh menyia-yiakan waktu. Begitu juga tentang menulis, bahkan bercerita aku sangat suka, otak selalu memproduksi kata tanpa diminta bila dia melihat sesuatu yang menarik baginya, namun tak semua berhasil dituliskan karena rasa malas itu selalu hadir untuk menunda menulis. Tak hanya rasa malas, rasa kurang pede juga hadir mana kala tulisan siap dipublikasi, selalu saja merasa tulisanku tak menarik dibila dibaca ulang sampai utuh. Memang belakangan sudah banyak aku menulis tapi sesungguhnya aku selalu berpikir lebih dari 2 kali untuk mempublikasikannya baik saat di blog maupun di majalah karena aku kurang pede dengan isinya.

Lalu, selain dengan “berkata-kata” aku juga suka dengan “berbicara” memang bila ditanya dengan teman dekatku mereka tentu tak akan percaya karena aku seorang yang pendiam dimana pun itu, tapi dari hati yang paling dalam aku sangat suka bercerita apapun itu baik pengalaman sampai dgn apa yg aku suka. Tapi bukan rasa malas yang jadi penghalang tapi rasa malu. Aku orang yang benar-benar pemalu bahkan bila berjalan diluar seakan merasa semua mata melihat padaku dan aku bukan orang yang gampang bergaul dengan orang baru. Mungkin orang dikamar mandi suka bernyanyi tapi aku malah berbicara, membicarakan gagasan pikiran yang sedang memutar dikepala tak berhenti.

Dan terakhir yang aku suka adalah berpindah tempat, berpindah tempat menjadi sesuatu yang spesial bagiku. Rasa berpindah itu benar benar menarik ku menjadi rasa yang aku suka. Berpindah disini dalam artian pindah kota atau negara, aku sangat suka memperhatikan orang orangnya, merasakan suasana macetnya bahkan sampai udaranya. Berpindah tempat benar-benar aku nikmati dalam karena tempat baru selalu bisa memberikan cerita baru dan cerita itu yang selalu bikin aku ingin berpindah dan terus mendengarkan.

Balik kepada cerita tentang pekerjaan, tentu mencari pekerjaan akan lebih baik bila kita mendapatkan pekerjaan yang kita sukai atau yang menjadi passion kita agar nyaman dan ikhlas melakukannya tanpa beban. Aku selalu berpikir akan bekerja seperti apa dan dimana, sampai pada saat beberapa hari yang lalu aku tersadarkan karena terus mencari pekerjaan apa yang cocok dengan apa yang aku suka dan aku menemukan nya juga saat sedang buang air besar. Aku terus berpikir dan memadukan tiga hal yang aku suka seperti yang aku jabarkan diatas dan hasilnya adalah Jurnalis yang sangat cocok dengan perpaduan tiga hal yang aku suka diatas. Lucu rasanya, pekerjaan yang aku benci dulu bahkan ibu ku juga tak terlalu setuju dengan pekerjaan itu malah menjadi pekerjaan yang sangat cocok dengan perpaduan apa yang aku suka. Menulis tentu seorang jurnalis ilmu dasar pasti menulis, bercerita mungkin lewat reporter aku bisa mendapatkan nya dan berpindah-pindah tempat tentu bila menjadi jurnalis hal ini bakal lebih terbuka lebar.

Itulah mengapa diawal aku mengatakan jangan terlalu cepat membenci suatu hal yang bisa saja dimasa depan itu menjadi bagian dalam hidupmu dan kau merasa telat untuk mempelajarinya atau tertinggal dengan mereka yang terlebih dahulu sudah mengeluti itu dan tentu saja skill mereka lebih terasah dari mu dan kau tertinggal dalam persaingan. Tersisa tinggal rasa menyesal karena selalu menghindari mata kuliah jurnalistik waktu kuliah kemarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *