Banyak yang sepakat untuk hal ini, tentang bagaimana perpisahan adalah hal yang menyedihkan, perpisahan menjadi sesuatu yang ditakuti hingga perpisahan sebisa mungkin dijauhi.

Memang tak mungkin tak ada perpisahan, sebab setiap pertemuan akan menghasilkan perpisahan. Bagai bayi yang lahir dengan manusia yang ajalnya telah terjemput. Ada yang datang lalu ada yang pergi seolah semakin menguatkan ketidakmungkinan perpisahan dapat dipisahkan dalam diri.

Namun terkadang perpisahan bisa menjadi suatu yang paling dinanti, dinanti dengan maksud merubah, merubah yang benar-benar mengganggu didalam hati.

Perpisahan bisa menjadi kebahagian bagi mereka yang kebahagiaanya terganggu, terganggu oleh sesuatu yang mereka tak suka.

Berbeda dengan mereka yang merasa tergerus karena merasa perlu untuk menjauh agar diri tak dianggap mengganggu. Mengganggu yang mereka anggap perlu untuk dijaga.

Perpisahan sangat dinanti oleh mereka karena mereka tahu harus mengalah, mengalah untuk menjauh agar yang mereka jaga akan terus tetap terjaga.

Perpisahan terkadang hadir begitu saja datang dengan begitu mendadaknya tepat dihadapan, hadir karena takdir yang berjalan.

Namun, banyak perpisahan hadir karena tuntutan semesta karena semesta yang menginginkan perpisahan itu terjadi. Terjadi karena permintaan dari manusia itu sendiri.

Sebab, perpisahan itu ada karena semesta mendukung akan kehadirannya dan kita manusia sesungguhnya tak bisa berbuat apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *