Muak dengan orang-orang disekitar belakangan ini, mereka marah dengan keadaan macetnya kota beserta panas yang dihadiahi oleh sang macet kala bercumbu dengannya. Memang wajar rasanya bila rasa marah itu muncul mana kala kita sedang terjebak dalam suasana itu, terlebih lagi bagi mereka yang menunggangi mesin beroda 2 bukan beroda 4 yang memiliki sistem pendingin didalamnya yang membuat penggunanya sedikit nyaman bila sedang terjebak.

Tapi ada baiknya untuk mengkoreksi diri sendiri atas perilaku masing-masing sebelum marah-marah atau menyalahi orang lain atas kondisi kota saat ini. Macet, sudah pasti penyebabnya adalah penggunan mesin bermotor yang sudah melebihi batas muatan jalan. Ya, memang benar itu tak sepenuhnya salah mereka pengguna mesin bermotor. Mereka menggunakan mesin bermotor mungkin saja karena tidak adanya sistem transportasi yang baik serta senyaman mesin bermotor sendiri dikota. Tetapi bagaimana dengan panas? Hadirnya panas juga karena sumbangsi besar dari emisi mesin bermotor kalian kan?

Mungkin sikap ini yang perlu dikoreksi tentang bagaimana menggunakan kendaraan bermotor dalam jarak yang sangat dekat yang sebenarnya bila berjalan kaki juga tak apa walaupun dengan alasan agar lebih cepat sampainya bila menggunakan mesin bermotor. Seperti bila ingin membeli sesuatu yang letaknya hanya didepan gang kira-kira 100 meter yang sebenarnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki tetapi tetap menggunakan mesin bermotor, tetap dengan alasan yang klasik agar sampai lebih cepat dan sering diperhatikan tak hanya satu atau dua orang yang melakukannya, banyak yang melakukan hal serupa. Jadi rasanya wajar bila mengapa jalan begitu penuh dan padat, ya karena ulah sendiri mengguna mesin bermotor dalam jarak tempuh yang dekat sampai para pejalan kaki benar-benar bisa hitung pakai jari. Belum lagi ditambah dengan emisi yang dihasilkan mesin bermotor kalian yang membuat suasana semakin panas ditengah penuh dan padatnya jalan.

Masih wajarkah kalian merasa marah?

Memang ini soal pilihan, tak ada siapapun yang berhak menggugat seseorang untuk memilih dia berjalan kaki atau menggunakan kendaraan bermotor. Tetapi bila berbicara rasa peduli ini bisa menjadi beda, peduli dalam artian mengurangi emisi yang sebenarnya tak benar-benar kurang juga dan jumlah kendaraan yang terus memuat padat. Kembali ke diri masing-masing, masih ingin terus marah dan tak melakukan apa-apa atau sudah melakukan apa-apa dan berhenti marah-marah karena mengerti ini ulah sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *