“hatinya bukan untuk hatiku” begitulah yang diucapkan temanku kemarin malam, teman yang tengah bertarung melawan gundah hatinya. Hatinya yang tengah jatuh pada seorang wanita teman kerjanya. Temanku, sudah lama ia menyukai wanitanya, namun baru belakangan ini ia dekat. Tentu, suatu kesenangan bagi seseorang bisa dekat dengan yang dicintanya. Jalan berdua, saling memerhatikan, ya itu kesenangan yang kebetulan didapatkan temanku dengan wanitanya.

Namun, seakan alam tak mendukung kesenangan yang sedang dinikmati temanku, tak berselang lama kesenangan pun berlalu, berlalu begitu saja karena temanku tahu wanitanya sedang berhubungan dengan pria lain, pria yang tak lain teman kerjanya selama 2 tahun belakang. Memang temanku, tak pernah memberitahu siapapun tentang wanitanya.

Wanitanya sedang menjalin hubungan dengan pria yang juga sedang menjalani hubungan dengan wanita lain, wanita yang dikasihinya sudah cukup lama. Pria itu menjalin hubungan dengan wanita lain hanya karena alasan bosan dengan kasih lalunya. Namun setelah pria itu mendapatkan wanita temanku, wanitanya juga tak kunjung diakhiri, ntahlah, apa mau mu pria temanku kau sudah dapat yang baru namun yang kau bilang bosan tak kau lepaskan. Ingat kedua wanita mu itu punya hati sama sepertimu yang harus kau hormati.

Temanku bercerita, wanitanya tahu kalau pria temanku memiliki kasih dengan wanita lain, namun wanita temanku tak mempermasalahkannya dan tetap melanjutkan hubungan mereka dengan status dirinya sebagai selingkuhan. Sungguh kasihan engkau wanita temanku, begitu banyak wanita yang ingin memiliki pria dengan satu cinta, ya hanya satu kepada wanitanya tak ada wanita lain lagi.

Temanku tahu bagaimana wanitanya itu, namun tetap saja temanku terus mencintanya walaupun katanya cukup buat hatiku saja tak perlu untuk hatinya. Bagaimana tidak, temanku rela menemani wanitanya makan tengah malam hanya karena khawatir wanitanya tak mau makan. Bagaimana tidak, temanku rela tengah malam pergi kerumah kerabat wanitanya untuk menjemput wanitanya yang dia sendiri tak tega membiarkan wanitanya pulang sendiri. Cukup sabar kau teman, hatimu hebat dikala kau tahu wanitamu bercinta dengan pria lain kau tetap memperhatikannya hanya karena alasan untuk hatimu, tak perlu dibalas oleh hatinya.

Yang paling mengesalkan bagiku dalam cerita temanku adalah wanitanya terlalu mempermainkan temanku. Itu menurutku. Bagaimana tidak, terkadang wanitanya seolah terus memberikan harapan untuk temanku untuk dibeberapa waktu, seperti mengatakan rindulah pada temanku. Wahai wanita temanku, sebenarnya hati siapa yang ingin kau tuju? Kalau memang bukan temanku sudahilah, kasihan dia jangan terus berikan dia harapan. Temanku bak di ombang-ambing sana-sini oleh wanitanya kadang di ingat kadang dilupakan. Namun, temanku tetap mencintanya.

Memang benar cinta itu buta, tersesat terjebak dalam gelap.

Dan dari ini aku bisa belajar bahwa perasaan suka, baik pada siapa pun atau pada diri sendiri harus dihargai, dihargai dengan memutuskan mana yang harus dipilih untuk tetap dan ditinggalkan. Bila semua diberi kesempatan, sungguh kasihan hati, baik diri dan mereka yang menyuka. Sepertinya memang benar yang dikatakan banyak orang “Bad Boys selalu saja memikat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *